Syuting di Indonesia Tapi Berlatar Myanmar, Film Internasional Lisa Blackpink Tuai Sorotan Publik Global

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:00:38 WIB
Syuting di Indonesia Tapi Berlatar Myanmar, Film Internasional Lisa Blackpink Tuai Sorotan Publik Global

JAKARTA - Awal tahun 2026 menjadi momen yang cukup ramai diperbincangkan oleh pecinta film internasional, khususnya penggemar Lisa Blackpink. Hal ini terjadi setelah film berjudul Extraction: Tygo diketahui melakukan proses syuting di Indonesia, namun justru menampilkan latar cerita di Myanmar.

Kabar tersebut langsung menyebar luas di media sosial dan memicu diskusi panjang di kalangan warganet. Banyak pihak merasa bangga karena Indonesia dipilih sebagai lokasi produksi film berskala global, namun sebagian lainnya mempertanyakan keputusan naratif yang tidak menyebut Indonesia sebagai latar cerita.

Film internasional berjudul Extraction: Tygo yang dibintangi Lisa Blackpink menuai sorotan publik pada awal tahun 2026 karena melakukan proses syuting di Indonesia, namun dalam narasi cerita film justru dilabeli Myanmar. Fakta ini memunculkan beragam reaksi dari masyarakat Indonesia.

Perhatian publik tidak hanya tertuju pada kehadiran Lisa Blackpink sebagai pemeran utama, tetapi juga pada bagaimana Indonesia digunakan sebagai latar visual. Banyak yang menilai hal ini sebagai peluang besar untuk promosi pariwisata dan budaya nasional, meskipun tidak secara eksplisit disebut dalam alur cerita.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana sebuah film internasional dapat membawa dampak besar terhadap persepsi publik terhadap suatu negara. Di sisi lain, keputusan kreatif dalam penentuan latar cerita juga menjadi bahan perdebatan yang menarik di tengah masyarakat.

Lokasi Syuting di Indonesia Jadi Sorotan Utama

Proses pengambilan film tersebut dilakukan di beberapa lokasi di Indonesia, antara lain kawasan Kota Tua Jakarta dan Tangerang, Banten. Dikutip dari Kompas TV, Selasa, 2 Februari 2026, bahwa alasan pemilihan lokasi tersebut karena dinilai memiliki karakter visual yang mendukung kebutuhan cerita film bergenre aksi berskala internasional.

Kota Tua Jakarta dipilih karena memiliki bangunan klasik yang dinilai mampu menghadirkan nuansa kota Asia yang khas. Sementara itu, kawasan Tangerang dimanfaatkan untuk kebutuhan adegan aksi yang memerlukan ruang luas dan fleksibel.

Penggunaan lokasi-lokasi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar sebagai destinasi syuting film internasional. Keanekaragaman lanskap perkotaan hingga kawasan industri memberikan banyak pilihan visual bagi para pembuat film.

Selain aspek visual, faktor infrastruktur dan kemudahan perizinan juga menjadi pertimbangan penting dalam pemilihan lokasi. Hal ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara tujuan produksi film luar negeri di kawasan Asia Tenggara.

Proses syuting yang melibatkan kru lokal turut membuka peluang kerja bagi tenaga profesional di industri perfilman nasional. Dengan demikian, kehadiran produksi internasional tidak hanya berdampak pada promosi visual, tetapi juga pada pertumbuhan sektor kreatif dalam negeri.

Bagi masyarakat sekitar lokasi syuting, kehadiran kru dan aktor internasional menjadi pengalaman tersendiri. Banyak warga yang merasa antusias dan bangga karena wilayah mereka dijadikan bagian dari produksi film berskala global.

Namun, di balik kebanggaan tersebut, muncul pula perasaan heran ketika mengetahui bahwa Indonesia tidak disebut sebagai latar cerita resmi. Hal inilah yang kemudian memicu diskusi lebih luas di ruang publik.

Alasan Produksi Mengubah Identitas Lokasi

Meski syuting berlangsung di Indonesia, latar cerita film ditetapkan berada di Myanmar. Untuk menyesuaikan hal tersebut, tim produksi mengubah tampilan lokasi dengan menambahkan properti film, papan nama, rambu jalan, serta elemen visual lain agar menyerupai suasana negara yang diceritakan dalam skenario.

Langkah ini dilakukan untuk menjaga konsistensi cerita sesuai dengan naskah yang telah dirancang sejak awal. Transformasi visual lokasi menjadi bagian dari praktik umum dalam industri film internasional.

Perubahan elemen visual ini melibatkan banyak detail, mulai dari bahasa yang digunakan pada papan petunjuk hingga desain bangunan. Tujuannya agar penonton dapat langsung mengenali setting cerita tanpa terganggu oleh konteks geografis sebenarnya.

Bagi sebagian penonton, perubahan ini tidak terlalu menjadi persoalan karena fokus utama berada pada alur cerita dan aksi para karakter. Namun, bagi masyarakat Indonesia, fakta bahwa negaranya dijadikan latar visual tanpa disebutkan dalam cerita menimbulkan perasaan campur aduk.

Dalam konteks produksi film global, penggunaan satu negara sebagai pengganti lokasi negara lain bukanlah hal baru. Banyak film Hollywood sebelumnya juga melakukan hal serupa demi efisiensi biaya dan kemudahan produksi.

Meski demikian, publik tetap berharap ada pengakuan atau penghargaan tersendiri terhadap lokasi asli yang digunakan. Hal ini dianggap penting sebagai bentuk apresiasi terhadap negara yang telah menyediakan ruang dan fasilitas bagi produksi film tersebut.

Transformasi lokasi ini juga menunjukkan kemampuan tim produksi dalam menciptakan ilusi visual yang meyakinkan. Dengan teknik sinematografi dan tata artistik yang tepat, sebuah tempat dapat diubah sesuai kebutuhan cerita.

Namun, perdebatan tetap muncul karena sebagian masyarakat merasa bahwa Indonesia memiliki identitas kuat yang layak diangkat dalam cerita film internasional. Isu ini kemudian berkembang menjadi diskusi lebih luas tentang representasi dan visibilitas budaya dalam industri hiburan global.

Reaksi Publik dan Perdebatan Representasi

Pelabelan latar Myanmar ini menuai kritik dari sebagian warganet Indonesia. Mereka mempertanyakan alasan Indonesia hanya dijadikan lokasi pengambilan gambar tanpa pengakuan sebagai latar cerita, sehingga memunculkan perdebatan mengenai representasi dan apresiasi terhadap lokasi syuting dalam produksi film internasional.

Di media sosial, berbagai komentar muncul yang menyoroti potensi promosi pariwisata yang terlewatkan. Banyak yang menilai bahwa penyebutan Indonesia dalam cerita film akan memberikan dampak positif bagi citra negara di mata dunia.

Sebagian warganet juga mengungkapkan kekecewaan karena merasa Indonesia hanya dimanfaatkan secara visual tanpa diangkat secara naratif. Hal ini dianggap sebagai peluang yang terbuang untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan destinasi wisata nasional.

Namun, ada pula pihak yang memandang persoalan ini secara lebih pragmatis. Mereka menilai bahwa penggunaan lokasi Indonesia dalam film internasional tetap membawa keuntungan, meskipun tidak disebutkan secara eksplisit dalam cerita.

Pendapat lain menyebutkan bahwa keputusan kreatif sepenuhnya berada di tangan pembuat film dan penulis skenario. Dalam konteks ini, Indonesia diposisikan sebagai elemen produksi yang mendukung cerita, bukan sebagai bagian dari narasi utama.

Diskusi ini kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai posisi negara-negara berkembang dalam industri film global. Banyak yang menilai bahwa negara seperti Indonesia masih sering menjadi latar visual tanpa mendapatkan sorotan naratif yang sepadan.

Isu representasi budaya dan geografis pun menjadi topik yang semakin sering dibicarakan. Masyarakat mulai menuntut agar lokasi syuting tidak hanya dimanfaatkan secara teknis, tetapi juga dihargai secara simbolik.

Di sisi lain, sebagian pengamat melihat hal ini sebagai peluang evaluasi bagi industri perfilman nasional. Mereka menilai bahwa Indonesia perlu memperkuat daya tawar agar dapat lebih terlibat dalam proses kreatif produksi internasional.

Kehadiran aktor kelas dunia seperti Lisa Blackpink sendiri sudah menjadi nilai tambah yang besar bagi Indonesia. Namun, publik berharap ke depan kolaborasi semacam ini dapat menghadirkan manfaat yang lebih luas, termasuk dalam aspek representasi cerita.

Diskursus ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin kritis terhadap bagaimana negaranya digambarkan atau digunakan dalam karya global. Hal ini menandakan meningkatnya kesadaran publik terhadap isu identitas dan citra nasional di era globalisasi.

Terlepas dari perdebatan yang muncul, syuting film ini tetap menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki daya tarik kuat bagi industri perfilman internasional. Keindahan visual, fleksibilitas lokasi, dan dukungan infrastruktur menjadikan Indonesia sebagai destinasi produksi yang menjanjikan.

Kehadiran produksi besar semacam ini juga membuka peluang kolaborasi jangka panjang antara pelaku industri film nasional dan internasional. Dengan pengalaman yang terus bertambah, kualitas sumber daya manusia di bidang perfilman Indonesia diharapkan semakin meningkat.

Publik pun berharap agar ke depan, Indonesia tidak hanya menjadi latar visual, tetapi juga dapat diangkat sebagai bagian dari cerita yang utuh. Hal ini dinilai penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam peta industri hiburan global.

Diskusi yang muncul akibat film ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin peduli terhadap bagaimana negaranya diposisikan di mata dunia. Kesadaran ini dapat menjadi modal penting dalam mendorong diplomasi budaya melalui industri kreatif.

Pada akhirnya, film Extraction: Tygo tidak hanya menjadi tontonan hiburan, tetapi juga memicu refleksi tentang peran Indonesia dalam produksi film internasional. Perdebatan ini membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai representasi, apresiasi, dan identitas nasional.

Dengan semakin banyaknya produksi luar negeri yang memilih Indonesia sebagai lokasi syuting, tantangan ke depan adalah memastikan bahwa kolaborasi tersebut memberikan manfaat maksimal. Baik dari sisi ekonomi, budaya, maupun citra bangsa, semua aspek perlu dipertimbangkan secara seimbang.

Film ini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah karya hiburan dapat membawa dampak sosial yang luas. Tidak hanya membicarakan alur cerita dan aktor, publik juga mulai menyoroti aspek di balik layar yang selama ini jarang diperhatikan.

Dalam konteks ini, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai pusat produksi kreatif di kawasan. Dengan strategi yang tepat, kehadiran film internasional dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan industri film nasional.

Ke depan, masyarakat berharap agar kerja sama semacam ini tidak hanya berfokus pada kebutuhan visual, tetapi juga pada pengakuan terhadap identitas lokal. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi latar, tetapi juga menjadi bagian dari cerita yang diingat penonton dunia.

Terkini